Home / Category / News

Kenapa Milenial Dunia Ketiga Perlu Mengerti soal Petrokimia ?

Hampir seluruh aktivitas hidup manusia modern saat ini tidak bisa dilepaskan dari produk-produk petrokimia. Dari mulai kantong plastik, botol-botol plastik, dan barang-barang rumah tangga yang biasa kita gunakan sehari-hari merupakan produk turunan dari industri petrokimia. Di rumah kita, interior dan cat dinding terbuat dari bahan petrokimia, di kamar mandi sikat gigi dan sikat baju juga dibuat dari bahan petrokimia. Di dapur, piring dan gelas plastik, serta lapisan teflon pada penggorengan juga tidak luput dari industri petrokimia. Keluar dari rumah, minyak wangi, produk kosmetik, serta pakaian yang kita kenakan sebagian juga bersumber dari bahan yang sama. Bodi kendaraan bermotor yang kita kenakan sampai bahan bakarnya juga tidak lepas dari petrokimia.

 

Produk petrokimia bahkan digunakan sebagai alat kesehatan seperti katup jantung untuk operasi salah satunya. Bahkan di bidang pertanian, pestisida dan pupuk yang biasa digunakan oleh petani juga dibuat dari bahan petrokimia. Direktur General Affair PT Kaltim Methanol sekaligus Ketua Umum KATGAMA UGM yang mendalami bidang petrokimia, Agus Prayitno, menjelaskan bahwa produk petrokimia merupakan produk lanjutan dari hasil pengolahan minyak dan gas bumi untuk mendapatkan nilai tambah yang lebih besar. “Jadi industri petrokimia itu luas sekali. Misalnya methanol yang merupakan produk petrokimia dasar itu bisa dibuat ratusan produk turunan,” kata Agus Prayitno ketika dihubungi, Kamis (4/9).

 

Sayangnya industri petrokimia dasar atau hulu di Indonesia selama dua dekade lebih menurutnya masih jalan di tempat. Sejak 1998 sampai sekarang, hanya ada satu produsen methanol di Indonesia, yakni PT Kaltim Methanol Indonesia yang ada di Bontang, Kalimantan Timur. Padahal, produsen-produsen produk turunan petrokimia di Indonesia saat ini sudah cukup banyak, misalnya Federasi Industri Kimia Indonesia, INAPLAS, Lotte Chemical Titan Indonesia, Mitsubishi Chemical Indonesia, Nippon Shokubai Indonesia, dan sebagainya.

 

“Kendala utamanya untuk industri kimia dasar sekarang itu ketersediaan gas alam sebagai bahan baku yang sudah semakin berkurang. Kalau secara teknologi saya kira kita sudah mampu, sudah tidak ada masalah,” ujarnya.
 
 
ADVERTISEMENT
Industri Petrokimia Hulu dan Hilir
Industri petrokimia secara garis besar dibagi menjadi dua, yakni petrokimia dasar atau hulu dan industri petrokimia hilir. Industri petrokimia dasar merupakan produsen bahan-bahan kimia dasar, misalnya methanol, ethylene, propylene, butadine, amonia, dan sebagainya. Nilai tambah yang dihasilkan oleh industri petrokimia dasar memang tidak terlalu besar, namun industri ini memegang peran yang sangat strategis bagi industri petrokimia secara luas.
 
Pasalnya, produk-produk yang dihasilkan dari industri petrokimia hulu nantinya akan menjadi bahan baku untuk industri petrokimia hilir. Ketika industri petrokimia hilir semakin banyak dengan kapasitas produksi yang kian besar namun tidak diimbangi dengan industri petrokimia hulu yang memadai, imbasnya kebutuhan bahan baku hanya bisa dipenuhi dengan cara impor. “Seperti sekarang, angka impor kita itu masih sangat besar,” ujar Agus Prayitno.
 
Dari petrokimia dasar inilah, nantinya akan diturunkan menjadi produk-produk turunan oleh industri petrokimia hilir seperti plastik poliuretan yang merupakan bahan baku bumper mobil, fiberglass sebagai bahan baku propeller pesawat terbang, kemasan makanan serta minuman, dan sebagainya. Saat ini, jumlah industri petrokimia hilir yang memproduksi produk-produk turunan dari petrokimia di Indonesia sudah semakin banyak.
 
“Jangan sampai kita punya industri hilir tapi bahan bakunya impor, karena hasil dari industri hulunya minim,” ujarnya.
 
Idealnya, di samping memiliki industri petrokimia hilir, di dalam negeri mestinya juga ada industri petrokimia hulu yang cukup sebagai produsen bahan baku. Akan menjadi percuma, ketika banyak industri petrokimia hilir namun tidak ada industri hulu. Sebab tetap saja Indonesia akan tergantung pada impor untuk memenuhi kebutuhan bahan bakunya.
 
Bahan Dasar Industri Petrokimia
Untuk bahan baku, ada dua jenis bahan baku dasar dalam industri petrokimia, yaitu minyak bumi dan gas alam. Minyak bumi merupakan senyawa kimia yang kompleks berupa cairan berwarna cokelat kehitaman dengan komposisi terbesar senyawa hidrokarbon. Ada juga beberapa senyawa lain dengan jumlah yang relatif lebih kecil seperti sulfur, logam-logam nikel, vanadium, arsenit, serta impuritis lainnya. Sekitar 85 persen dari semua minyak mentah di dunia, diklasifikasikan menjadi tiga golongan yakni minyak dasar aspal, minyak dasar parafin, serta minyak dasar campuran. Minyak dasar aspal sedikit lilin parafin dengan aspal sebagai residu utama dengan kandungan aromatic yang sangat dominan. Sebaliknya, minyak dasar parafin mengandung sangat sedikit aspal, sehingga sangat baik untuk memproduksi lilin parafin, oli pelumas sepeda motor, serta kerosene yang berkualitas tinggi. Sedangkan minyak dasar campuran mengandung parafin dan aspal dengan komposisi yang nyaris seimbang.
 
Bahan baku petrokimia yang kedua, yakni gas alam, merupakan campuran antara gas hidrokarbon jenuh yang ditemukan di bawah permukaan bumi dan bisa ditemukan bersama minyak bumi. Adapun komponen-komponen gas alam yang dapat digunakan sebagai bahan baku petrokimia di antaranya metana, etana, propane, butane, serta kondensat.
 
Kunci Pembangunan Ekonomi Menjadi Negara Maju
Menurut Agus Prayitno, industri petrokimia merupakan pilar penting bagi perekonomian suatu negara, termasuk Indonesia. Pasalnya, nyaris semua sektor kehidupan manusia saat ini tidak bisa dilepaskan dari produk-produk petrokimia. Sangat banyak kegiatan masyarakat yang bergantung pada produk petrokimia. “Kalau tidak segera dikejar dan ditingkatkan, maka kita akan bergantung pada impor terus,” ujar Agus.
Industri petrokimia menurut Agus memegang peran penting untuk mengurangi defisit current account deficit (CAD) atau defisit neraca transaksi berjalan, yakni situasi dimana impor lebih besar ketimbang ekspor. Besarnya defisit CAD yang dialami oleh Indonesia saat ini menurutnya salah satu penyebab utamanya adalah tingginya angka impor produk-produk petrokimia, baik produk petrokimia dasar maupun yang turunan.
 
Sebagai gambaran, berdasarkan data yang dirilis oleh INAPLAS menunjukkan bahwa kebutuhan produk petrokimia hulu Indonesia seperti polipropilena, polivinil klorida, polietilena, serta polistirena hampir mencapai 6 juta ton dalam setahun. Namun industri dalam negeri hanya mampu memenuhi sekitar 30 persen dari permintaan domestik itu. Sedangkan sisanya sekitar 70 persen, semua harus dipenuhi dengan cara impor.
 
Diperkirakan, ke depan pertumbuhan konsumsi rumah tangga terhadap produk petrokimia akan terus meningkat sebesar 5 persen, sedangkan pertumbuhan manufaktur juga mengalami pertumbuhan sekitar 3 sampai 4 persen. “Pengembangan industri petrokimia ini memang sangat penting dan strategis untuk perekonomian negara,” ujar Agus menegaskan. Akan sangat menentukan bagi perkembangan Republik Indonesia jika milenial memiliki perhatian pada hal-hal penting yang merupakan fondasi kemajuan sebuah bangsa, seperti industri petrokimia. “Kita perlu generasi terbaik yang memiliki konsentrasi pada ilmu-ilmu kimia dasar seperti petrokimia,” tandas Agus. (Widi Erha Pradana / YK-1).
(sumber Artikel disadur dari : https://kumparan.com)

Share Holder

Jakarta Office

TREASURY TOWER, 35TH FLOOR DISTRICT 8, SCBD LOT 28 JL. JEND. SUDIRMAN KAV. 52-53, JAKARTA 12190
Ph. (62-21) 5086 4000 (hunting)
Fax. (62-21) 5086 4010
marketing@kaltimmethanol.com (Sales Inquiry )

Bontang Office

PT. Kaltim Methanol Industri,
Wisma KIE Lt.1, Jl. Paku Aji, Kawasan Industri Pupuk Kaltim, Bontang 75313, Kalimantan Timur
Telp. 62-548-41394,
Fax. 62-548-41395,